{'Arasy atau 'Arsy (bahasa Arab: عَرْش) merujuk kepada tempat Allah bersemayam menurut Al-Quran.}
Dikisahkan, bahawasanya di waktu Rasulullah s.a.w. sedang asyik bertawaf di Ka'bah, beliau mendengar seseorang di hadapannya bertawaf, sambil berzikir: "Ya Karim! Ya Karim!"
Rasulullah s.a.w. menirunya membaca "Ya Karim! Ya Karim!" Orang itu Ialu berhenti di salah satu sudut Ka'bah, dan berzikir lagi: "Ya Karim! Ya Karim!" Rasulullah s.a.w. yang berada di belakangnya mengikut zikirnya "Ya Karim! Ya Karim!" Merasa seperti diolok-olokkan, orang itu menoleh ke belakang dan terlihat olehnya seorang laki-laki yang gagah, lagi tampan yang belum pernah dikenalinya. Orang itu Ialu berkata:
"Wahai orang tampan! Apakah engkau memang sengaja memperolok-olokkanku, kerana aku ini adalah orang Arab badwi? Kalaulah bukan kerana ketampananmu dan kegagahanmu, pasti engkau akan aku laporkan kepada kekasihku, Muhammad Rasulullah."
Mendengar kata-kata orang badwi itu, Rasulullah s.a.w. tersenyum, lalu bertanya: "Tidakkah engkau mengenali Nabimu, wahai orang Arab?" "Belum," jawab orang itu. "Jadi bagaimana kau beriman kepadanya?"
"Saya percaya dengan mantap atas kenabiannya, sekalipun saya belum pernah melihatnya, dan membenarkan perutusannya, sekalipun saya belum pernah bertemu dengannya," kata orang Arab badwi itu pula.
Rasulullah s.a.w. pun berkata kepadanya: "Wahai orang Arab! Ketahuilah aku inilah Nabimu di dunia dan penolongmu nanti di akhirat!" Melihat Nabi di hadapannya, dia tercengang, seperti tidak percaya kepada dirinya.
"Tuan ini Nabi Muhammad?!" "Ya" jawab Nabi s.a.w. Dia segera tunduk untuk mencium kedua kaki Rasulullah s.a.w. Melihat hal itu, Rasulullah s.a.w. menarik tubuh orang Arab itu, seraya berkata kepadanya:
"Wahal orang Arab! janganlah berbuat serupa itu. Perbuatan serupa itu balasanya dilakukan oleh hamba sahaya kepada jeragannya, Ketahuilah, Allah mengutusku bukan untuk menjadi seorang yang takabbur yang meminta dihormati, atau diagungkan, tetapi demi membawa berita gembira bagi orang yang beriman, dan membawa berita menakutkan bagi yang mengingkarinya. "
Ketika itulah, Malaikat Jibril a.s. turun membawa berita dari langit dia berkata: "Ya Muhammad! Tuhan As-Salam mengucapkan salam kepadamu dan bersabda: "Katakanlah kepada orang Arab itu, agar dia tidak terpesona dengan belas kasih Allah. Ketahuilah bahawa Allah akan menghisabnya di hari Mahsyar nanti, akan menimbang semua amalannya, baik yang kecil mahupun yang besar!" Setelah menyampaikan berita itu, Jibril kemudian pergi. Maka orang Arab itu pula berkata:
"Demi keagungan serta kemuliaan Tuhan, jika Tuhan akan membuat perhitungan atas amalan hamba, maka hamba pun akan membuat perhitungan dengannya!" kata orang Arab badwi itu. "Apakah yang akan engkau perhitungkan dengan Tuhan?" Rasulullah bertanya kepadanya. 'Jika Tuhan akan memperhitungkan dosa-dosa hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa kebesaran maghfirahnya, ' jawab orang itu. 'Jika Dia memperhitungkan kemaksiatan hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa keluasan pengampunan- Nya. Jika Dia memperhitungkan kekikiran hamba, maka hamba akan memperhitungkan pula betapa kedermawanannya! '
Mendengar ucapan orang Arab badwi itu, maka Rasulullah s.a.w. pun menangis mengingatkan betapa benarnya kata-kata orang Arab badwi itu, air mata beliau meleleh membasahi Janggutnya. Lantaran itu Malaikat Jibril turun lagi seraya berkata:
"Ya Muhammad! Tuhan As-Salam menyampaikan salam kepadamu, dan bersabda: Berhentilah engkau dari menangis! Sesungguhnya kerana tangismu, penjaga Arasy lupa dari bacaan tasbih dan tahmidnya, sehingga la bergoncang. Katakan kepada temanmu itu, bahawa Allah tidak akan menghisab dirinya, juga tidak akan memperhitungkan kemaksiatannya. Allah sudah rnengampuni semua kesalahannya dan la akan menjadi temanmu di syurga nanti!" Betapa sukanya orang Arab badwi itu, apabila mendengar berita tersebut. la Ialu menangis kerana tidak berdaya menahan keharuan dirinya.
------------ --------
Wassalamualaikum wr wb.
Kamis, 20 Mei 2010
Selasa, 18 Mei 2010
RUKUN IMAN
Muslim juga mempercayai Rukun Iman yang terdiri atas 6 perkara yaitu:
1. Iman kepada Allah
2. Iman kepada malaikat Allah
3. Iman kepada kitab-kitab Allah (Al-Qur'an, Injil, Taurat, Zabur, suhuf Ibrahim)
4. Iman kepada nabi dan rasul Allah
5. Iman kepada hari kiamat
6. Iman kepada qada dan qadar
1. Iman kepada Allah
2. Iman kepada malaikat Allah
3. Iman kepada kitab-kitab Allah (Al-Qur'an, Injil, Taurat, Zabur, suhuf Ibrahim)
4. Iman kepada nabi dan rasul Allah
5. Iman kepada hari kiamat
6. Iman kepada qada dan qadar
ISLAM
Islam (Arab: al-islām, الإسلام info dengarkan: "berserah diri kepada Tuhan") adalah agama yang mengimani satu Tuhan, yaitu Allah. Agama ini termasuk agama samawi (agama-agama yang dipercaya oleh para pengikutnya diturunkan dari langit) dan termasuk dalam golongan agama Ibrahim. Dengan lebih dari satu seperempat milyar orang pengikut di seluruh dunia [1][2], menjadikan Islam sebagai agama terbesar kedua di dunia setelah agama Kristen.[3] Islam memiliki arti "penyerahan", atau penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan (Arab: الله, Allāh).[4] Pengikut ajaran Islam dikenal dengan sebutan Muslim yang berarti "seorang yang tunduk kepada Tuhan"[5][6], atau lebih lengkapnya adalah Muslimin bagi laki-laki dan Muslimat bagi perempuan. Islam mengajarkan bahwa Allah menurunkan firman-Nya kepada manusia melalui para nabi dan rasul utusan-Nya, dan meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa Muhammad adalah nabi dan rasul terakhir yang diutus ke dunia oleh Allah.
Senin, 17 Mei 2010
Indahya mengucapkan salam
Dari Abdullah bin Amr bin Ash, bahwasanya ada seorang yang bertanya kepada Rasulullah Saw: Bagaimanakah Islam yang baik itu?” Beliau menjawab, “Yaitu mau memberi makanan dan mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan kepada orang yang belum kamu kenal.” (HR. Bukhari Muslim).
Assalaamu’alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh. Merupakan kata yang tak asing bagi kita sebagai umat Islam.Kata ini selalu di ucapkan oleh yang tua maupun yang muda.Tapi mengapa ! Sekarang ini kata salam semakin tak terdengar dalam kehidupan kita.malah yang sering kita dengar biasanya Selamat Pagi, apa kabar, Permisi dll. Seharusnya kita kita membudayakan mengucapkan salam kepada sesama umat Islam.mungkin tak banyak yang masih mengingat, Sang Kekasih Allah telah bersabda, bahwa ucapan itu menjadi salah satu parameter kebaikan seorang muslim, sebagaimana diriwayatkan Bukhari dan Muslim di atas; Berislamlah dengan baik dengan mengucap salam kepada yang engkau kenal dan tidak engkau kenal…
Tapi sudahkah ia menjadi menjadi sarana pengikat cinta? Sebagaimana kabar yang disampaikan Abu Hurairah ra? Ia berkata: Rasulullah Saw bersabda, ”… Maukah kamu sekalian aku tunjukkan sesuatu yang apabila kamu mengerjakannya maka kamu sekalian akan saling mencintai? Yaitu sebarkanlah salam diantara kamu sekalian”. (HR Muslim).
Assalaamu’alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh, Sungguh kalimat ini amat mudah diucapkan. Tapi kenapa banyak orang yang meremehkan kata-kata ini.Bahkan ada yang hendak menggantikannya dengan selamat pagi, atau sapaan lokal dan teritorial lainnya. Tidakkah teringat kata seorang sahabat, Abu Yusuf (Abdullah) bin Salam ra: Saya mendengar Nabi ‘alaihissalaam bersabda: “Hai sekalian manusia, sebarluaskanlah salam, berikanlah makanan, hubungkanlah tali persaudaraan, dan shalatlah pada waktu manusia sedang tidur, niscaya kamu sekalian akan masuk surga dengan selamat.” (HR Turmudzi). Duhai, alangkah nikmatnya! Ternyata tiket surga tidak mahal. ‘Cukup’ dengan menyebarkan salam.
Assalaamu’alaikum wa rahmatullaahi wa barakatuh, Betapa cinta Rasulullah dengan untaian kata ini. Hingga tak lepas lisannya dari salam di setiap waktu dan kesempatan. Saat mendatangi suatu kaum, Rasulullah mengucapkan salam ini dengan diulang tiga kali. Saat Beliau melewati sekumpulan kaum wanita, saat bertemu dengan sekelompok anak-anak, saat bertamu atau memasuki rumahnya sendiri, doa rahmah itu mengalun indah dari bibirnya. Bahkan saat di dalam majelis, beliau tak bosan membalas salam sahabatnya yang hadir satu persatu, pun ketika mereka satu demi satu kemudian meninggalkan majelis dan kembali mengucap salam. Bahkan beliau pernah bersabda: “Apabila salah seorang diantara kalian bertemu dengan saudaranya, maka hendaklah ia mengucap salam kepadanya. Dan seandainya diantara keduanya terpisah oleh pohon, dinding atau batu, kemudian bertemu kembali, maka hendaklah ia mengucapkan salam lagi”. (Disampaikan oleh Abu Hurairah, HR Abu Dawud).
Maka tak heran, jika Abdullah bin Umar suka pergi ke pasar, meski tak hendak membeli sesuatu. Kepada Tufail bin Ubay bin Ka’ab yang pernah menemaninya ia berkata, ”Wahai Tufail, mari ke pasar. Kita sampaikan salam kepada siapa saja yang kita jumpai. Maka berpuluh kali kalimat itu meluncur sejuk dari mulutnya, kepada para pedagang, pembeli, para kuli, tukang rombengan hingga warga papa.
Maka sungguh indah, jikalah salam itu disebarkan oleh wajah penuh senyuman, dihayati dan diresapi sebagaimana Abbas Assisi menyampaikan dalam surat-surat kepada sahabat-sahabatnya: Salaam Allah ‘alaika wa rahmatuhu wa barakaatuh. Sungguh damai dan nyaman, jika salam kita sampaikan sebagai ta’abbudan (ibadah) dan mahabbah (kecintaan), bukan sekedar kebiasaan.
Jadi marilah kita budayakan mengucapkan salam kepada orang lain.Jangan lupakan ajaran rasul yang di anjurkan untuk umatnya.Salaam Allah yaa Ikhwatii, ya khalilii, wa rahmatuhu wa barakatuh. (Semoga Allah memberikan kedamaian, kasih mesra dan barakahNya untukmu saudaraku, sahabatku)
Assalaamu’alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh. Merupakan kata yang tak asing bagi kita sebagai umat Islam.Kata ini selalu di ucapkan oleh yang tua maupun yang muda.Tapi mengapa ! Sekarang ini kata salam semakin tak terdengar dalam kehidupan kita.malah yang sering kita dengar biasanya Selamat Pagi, apa kabar, Permisi dll. Seharusnya kita kita membudayakan mengucapkan salam kepada sesama umat Islam.mungkin tak banyak yang masih mengingat, Sang Kekasih Allah telah bersabda, bahwa ucapan itu menjadi salah satu parameter kebaikan seorang muslim, sebagaimana diriwayatkan Bukhari dan Muslim di atas; Berislamlah dengan baik dengan mengucap salam kepada yang engkau kenal dan tidak engkau kenal…
Tapi sudahkah ia menjadi menjadi sarana pengikat cinta? Sebagaimana kabar yang disampaikan Abu Hurairah ra? Ia berkata: Rasulullah Saw bersabda, ”… Maukah kamu sekalian aku tunjukkan sesuatu yang apabila kamu mengerjakannya maka kamu sekalian akan saling mencintai? Yaitu sebarkanlah salam diantara kamu sekalian”. (HR Muslim).
Assalaamu’alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh, Sungguh kalimat ini amat mudah diucapkan. Tapi kenapa banyak orang yang meremehkan kata-kata ini.Bahkan ada yang hendak menggantikannya dengan selamat pagi, atau sapaan lokal dan teritorial lainnya. Tidakkah teringat kata seorang sahabat, Abu Yusuf (Abdullah) bin Salam ra: Saya mendengar Nabi ‘alaihissalaam bersabda: “Hai sekalian manusia, sebarluaskanlah salam, berikanlah makanan, hubungkanlah tali persaudaraan, dan shalatlah pada waktu manusia sedang tidur, niscaya kamu sekalian akan masuk surga dengan selamat.” (HR Turmudzi). Duhai, alangkah nikmatnya! Ternyata tiket surga tidak mahal. ‘Cukup’ dengan menyebarkan salam.
Assalaamu’alaikum wa rahmatullaahi wa barakatuh, Betapa cinta Rasulullah dengan untaian kata ini. Hingga tak lepas lisannya dari salam di setiap waktu dan kesempatan. Saat mendatangi suatu kaum, Rasulullah mengucapkan salam ini dengan diulang tiga kali. Saat Beliau melewati sekumpulan kaum wanita, saat bertemu dengan sekelompok anak-anak, saat bertamu atau memasuki rumahnya sendiri, doa rahmah itu mengalun indah dari bibirnya. Bahkan saat di dalam majelis, beliau tak bosan membalas salam sahabatnya yang hadir satu persatu, pun ketika mereka satu demi satu kemudian meninggalkan majelis dan kembali mengucap salam. Bahkan beliau pernah bersabda: “Apabila salah seorang diantara kalian bertemu dengan saudaranya, maka hendaklah ia mengucap salam kepadanya. Dan seandainya diantara keduanya terpisah oleh pohon, dinding atau batu, kemudian bertemu kembali, maka hendaklah ia mengucapkan salam lagi”. (Disampaikan oleh Abu Hurairah, HR Abu Dawud).
Maka tak heran, jika Abdullah bin Umar suka pergi ke pasar, meski tak hendak membeli sesuatu. Kepada Tufail bin Ubay bin Ka’ab yang pernah menemaninya ia berkata, ”Wahai Tufail, mari ke pasar. Kita sampaikan salam kepada siapa saja yang kita jumpai. Maka berpuluh kali kalimat itu meluncur sejuk dari mulutnya, kepada para pedagang, pembeli, para kuli, tukang rombengan hingga warga papa.
Maka sungguh indah, jikalah salam itu disebarkan oleh wajah penuh senyuman, dihayati dan diresapi sebagaimana Abbas Assisi menyampaikan dalam surat-surat kepada sahabat-sahabatnya: Salaam Allah ‘alaika wa rahmatuhu wa barakaatuh. Sungguh damai dan nyaman, jika salam kita sampaikan sebagai ta’abbudan (ibadah) dan mahabbah (kecintaan), bukan sekedar kebiasaan.
Jadi marilah kita budayakan mengucapkan salam kepada orang lain.Jangan lupakan ajaran rasul yang di anjurkan untuk umatnya.Salaam Allah yaa Ikhwatii, ya khalilii, wa rahmatuhu wa barakatuh. (Semoga Allah memberikan kedamaian, kasih mesra dan barakahNya untukmu saudaraku, sahabatku)
Syahadat
Syahadat merupakan asas dan dasar bagi rukun Islam lainnya. Syahadat merupakan ruh, inti dan landasan seluruh ajaran Islam. [1]Syahadat sering disebut dengan Syahadatain karena terdiri dari 2 kalimat (Dalam bahasa arab Syahadatain berarti 2 kalimat Syahadat). Kedua kalimat syahadat itu adalah:
* Kalimat pertama : Syahadat1
Asyhadu An-Laa Ilâha Illallâh
artinya : Saya bersaksi bahwa tiada Ilah selain Allah
* Kalimat kedua : Syahadat2
wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullâh
artinya: dan saya bersaksi bahwa Muhammad saw adalah Rasul / utusan Allah.
Makna Syahadat[2]
* Kalimat pertama menunjukkan pengakuan tauhid. Artinya, seorang muslim hanya mempercayai Allâh sebagai satu-satunya Allah. Allah adalah Tuhan dalam arti sesuatu yang menjadi motivasi atau menjadi tujuan seseorang. Jadi dengan mengikrarkan kalimat pertama, seorang muslim memantapkan diri untuk menjadikan hanya Allâh sebagai tujuan, motivasi, dan jalan hidup.
* Kalimat kedua menunjukkan pengakuan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allâh. Dengan mengikrarkan kalimat ini seorang muslim memantapkan diri untuk meyakini ajaran Allâh seperti yang disampaikan melalui Muhammad saw, seperti misalnya meyakini hadist-hadis Muhammad saw. Termasuk di dalamnya adalah tidak mempercayai klaim kerasulan setelah Muhammad saw.
* Kalimat pertama : Syahadat1
Asyhadu An-Laa Ilâha Illallâh
artinya : Saya bersaksi bahwa tiada Ilah selain Allah
* Kalimat kedua : Syahadat2
wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullâh
artinya: dan saya bersaksi bahwa Muhammad saw adalah Rasul / utusan Allah.
Makna Syahadat[2]
* Kalimat pertama menunjukkan pengakuan tauhid. Artinya, seorang muslim hanya mempercayai Allâh sebagai satu-satunya Allah. Allah adalah Tuhan dalam arti sesuatu yang menjadi motivasi atau menjadi tujuan seseorang. Jadi dengan mengikrarkan kalimat pertama, seorang muslim memantapkan diri untuk menjadikan hanya Allâh sebagai tujuan, motivasi, dan jalan hidup.
* Kalimat kedua menunjukkan pengakuan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allâh. Dengan mengikrarkan kalimat ini seorang muslim memantapkan diri untuk meyakini ajaran Allâh seperti yang disampaikan melalui Muhammad saw, seperti misalnya meyakini hadist-hadis Muhammad saw. Termasuk di dalamnya adalah tidak mempercayai klaim kerasulan setelah Muhammad saw.
FADHILAT 5 AYAT
Dalam al-Quran, ada lima ayat dalam beberapa surah yang mengandungi khasiat. Lima ayat itu lebih dikenali sebagai ayat Nashr, yang bermaksud suatu ayat yang boleh digunakan sebagai penolong atau pendinding diri.
Mengikut pendapat ulama, ayat lima itu mempunyai pelbagai faedah termasuk:
Sebagai penolak sebarang kejahatan manusia, jin, syaitan dan binatang buas.
Sekiranya dibaca di hadapan musuh atau seteru, insya-Allah akan terjaga daripada sebarang kejahatannya.
Dapat menimbulkan kewibawaan dan kehebatan diri di depan musuh ketika di medan perang hingga mereka gerun.
Jika dijadikan suatu wirid (amalan yang berterusan) tiap selesai sembahyang fardu, maka segala hajat yang diingini akan dikabulkan Allah.
Sesiapa yang membaca selepas Subuh dan solat Maghrib secara istiqamah akan dikekalkan dalam jawatannya dan dinaikkan pangkat.
Ayat pertama adalah daripada surah al-Baqarah ayat 246, yang bermaksud: “Apakah kamu tidak memerhatikan pengikut Bani Israil sesudah Nabi Musa iaitu ketika mereka berkata kepada seorang nabi mereka, “Lantiklah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah kepemimpinannya) di jalan Allah. Nabi mereka menjawab, “Mengapa kami tidak mahu berperang di jalan Allah, pada hal kami dihalau dari kampung halaman kami dan daripada anak kami? Maka tatkala perang itu diwajibkan ke atas mereka, lalu mereka pun berpaling kecuali beberapa orang saja antara mereka. Dan Allah Maha Mengetahui ke atas orang yang zalim.”
Ayat kedua bermaksud: “Sesungguhnya Allah mendengar perkataan orang yang mengatakan, “Sesungguhnya Allah miskin dan kami adalah kaya. Kami akan mencatat perkataan mereka itu dan perbuatan mereka yang membunuh nabi tanpa sebarang alasan yang benar. Dan Kami akan mengatakan (kepada mereka), “Rasakanlah oleh kamu azab yang membakar.” (Surah Ali Imran, ayat 181).
Ayat ketiga daripada surah an-Nisa, ayat 77 yang bermaksud: “Tidakkah kamu perhatikan orang yang dikatakan kepada mereka, Tahanlah tanganmu (daripada berperang), dirikanlah sembahyang dan keluarkan zakat.” Setelah diwajibkan ke atas mereka berperang tiba-tiba sebahagian mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh) seperti mana ketakutannya kepada Allah, malah lebih daripada itu dalam ketakutannya lalu mereka berkata, “Ya Tuhan kami, mengapa Engkau tangguhkan (kewajipan berperang) kepada kami sampai beberapa waktu lagi! Katakanlah, “Kesenangan dunia itu hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang yang bertakwa dan kamu tidak akan dianiaya sedikit pun.”
Ayat keempat daripada surah al-Maidah, ayat 77, bermaksud: “Ceritakanlah kepada mereka mengenai kisah kedua-dua anak Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya ketika kedua-duanya dipersembahkan korban, maka terimalah (korban) daripada seorang antara mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Dia berkata, “Aku pasti akan membunuh.” Habil berkata, “Sesungguhnya Allah hanya menerima korban daripada orang yang bertakwa.”
Ayat terakhir daripada surah al-Ra'du, ayat 16, bermaksud: “Katakanlah siapakah Tuhan langit dan bumi? Jawablah, Allah, katakanlah, Patutkah kami mengambil perlindunganmu selain Allah, pada hal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak pula kemudaratan bagi diri mereka sendiri.
Mengikut pendapat ulama, ayat lima itu mempunyai pelbagai faedah termasuk:
Sebagai penolak sebarang kejahatan manusia, jin, syaitan dan binatang buas.
Sekiranya dibaca di hadapan musuh atau seteru, insya-Allah akan terjaga daripada sebarang kejahatannya.
Dapat menimbulkan kewibawaan dan kehebatan diri di depan musuh ketika di medan perang hingga mereka gerun.
Jika dijadikan suatu wirid (amalan yang berterusan) tiap selesai sembahyang fardu, maka segala hajat yang diingini akan dikabulkan Allah.
Sesiapa yang membaca selepas Subuh dan solat Maghrib secara istiqamah akan dikekalkan dalam jawatannya dan dinaikkan pangkat.
Ayat pertama adalah daripada surah al-Baqarah ayat 246, yang bermaksud: “Apakah kamu tidak memerhatikan pengikut Bani Israil sesudah Nabi Musa iaitu ketika mereka berkata kepada seorang nabi mereka, “Lantiklah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah kepemimpinannya) di jalan Allah. Nabi mereka menjawab, “Mengapa kami tidak mahu berperang di jalan Allah, pada hal kami dihalau dari kampung halaman kami dan daripada anak kami? Maka tatkala perang itu diwajibkan ke atas mereka, lalu mereka pun berpaling kecuali beberapa orang saja antara mereka. Dan Allah Maha Mengetahui ke atas orang yang zalim.”
Ayat kedua bermaksud: “Sesungguhnya Allah mendengar perkataan orang yang mengatakan, “Sesungguhnya Allah miskin dan kami adalah kaya. Kami akan mencatat perkataan mereka itu dan perbuatan mereka yang membunuh nabi tanpa sebarang alasan yang benar. Dan Kami akan mengatakan (kepada mereka), “Rasakanlah oleh kamu azab yang membakar.” (Surah Ali Imran, ayat 181).
Ayat ketiga daripada surah an-Nisa, ayat 77 yang bermaksud: “Tidakkah kamu perhatikan orang yang dikatakan kepada mereka, Tahanlah tanganmu (daripada berperang), dirikanlah sembahyang dan keluarkan zakat.” Setelah diwajibkan ke atas mereka berperang tiba-tiba sebahagian mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh) seperti mana ketakutannya kepada Allah, malah lebih daripada itu dalam ketakutannya lalu mereka berkata, “Ya Tuhan kami, mengapa Engkau tangguhkan (kewajipan berperang) kepada kami sampai beberapa waktu lagi! Katakanlah, “Kesenangan dunia itu hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang yang bertakwa dan kamu tidak akan dianiaya sedikit pun.”
Ayat keempat daripada surah al-Maidah, ayat 77, bermaksud: “Ceritakanlah kepada mereka mengenai kisah kedua-dua anak Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya ketika kedua-duanya dipersembahkan korban, maka terimalah (korban) daripada seorang antara mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Dia berkata, “Aku pasti akan membunuh.” Habil berkata, “Sesungguhnya Allah hanya menerima korban daripada orang yang bertakwa.”
Ayat terakhir daripada surah al-Ra'du, ayat 16, bermaksud: “Katakanlah siapakah Tuhan langit dan bumi? Jawablah, Allah, katakanlah, Patutkah kami mengambil perlindunganmu selain Allah, pada hal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak pula kemudaratan bagi diri mereka sendiri.
Langganan:
Komentar (Atom)

